Banyak pemilik warung tahu mie instan laku, tapi tidak tahu persis berapa untungnya per dus. Padahal ini barang dengan putaran tercepat di rak, jadi selisih kecil per bungkus jadi angka besar sebulan. Mari kita hitung pelan pelan.

Ambil harga yang benar dulu

Harga eceran mie instan goreng di gudang kami Rp 3.500 per bungkus. Kalau Anda ambil satu dus isi 40, harganya turun jadi Rp 3.150 per bungkus. Jadi satu dus modalnya Rp 126.000, bukan Rp 140.000. Selisih Rp 14.000 ini sudah untung Anda sebelum jualan.

Hitung margin per bungkus

  1. Modal per bungkus di tier grosir dus, Rp 3.150.
  2. Harga jual warung di Gunung Putri rata rata Rp 4.000 per bungkus.
  3. Margin kotor per bungkus, Rp 850.
  4. Margin satu dus isi 40, Rp 34.000.

Rp 34.000 per dus terdengar kecil. Tapi warung yang ramai di dekat kawasan pabrik biasanya habis 2 sampai 3 dus per minggu. Ambil angka tengah, 2,5 dus per minggu, berarti 10 dus sebulan. Marginnya Rp 340.000 sebulan dari satu jenis barang saja.

Sekarang lihat apa yang terjadi kalau beli eceran

Kalau Anda beli eceran Rp 3.500 dan jual Rp 4.000, margin per bungkus cuma Rp 500. Untuk 400 bungkus sebulan, marginnya Rp 200.000. Anda kehilangan Rp 140.000 sebulan hanya karena tidak membeli per dus. Setahun, itu Rp 1,68 juta.

Beli per dus bukan soal punya modal besar. Ini soal tidak membuang margin yang sebenarnya sudah jadi hak Anda.

Kapan naik ke tier berikutnya masuk akal

Tier berikutnya di gudang kami mulai dari 200 bungkus, atau 5 dus, dengan harga Rp 3.000 per bungkus. Kalau warung Anda habis 10 dus sebulan, ambil 5 dus sekaligus dua kali sebulan lebih untung daripada ambil 2 dus tiap minggu. Marginnya naik jadi Rp 400.000 sebulan, dan Anda hemat ongkos bolak balik.

Syaratnya cuma satu, tempat penyimpanan. Lima dus mie instan butuh ruang sekitar satu meter persegi dan aman ditumpuk sampai enam tingkat. Kalau ruang gudang Anda cukup, ini keputusan yang gampang.