Harga grosir selalu lebih murah per satuan. Tapi itu tidak otomatis berarti Anda untung membelinya. Uang yang Anda kunci di stok tidak bisa dipakai untuk hal lain, dan barang yang tidak laku tetap barang rugi walau dibeli murah. Ada tiga pertanyaan yang perlu dijawab dulu.

Satu, berapa lama barang ini habis

Aturan sederhana, kalau satu dus habis dalam dua minggu atau kurang, ambil per dus. Kalau lebih dari sebulan, pikir dua kali. Mie instan, minyak, gula, dan kopi hampir selalu lolos aturan ini di warung yang ramai. Biskuit kaleng dan barang musiman biasanya tidak.

Dua, berapa masa simpannya

  • Mie instan, sekitar 8 bulan. Aman untuk stok besar.
  • Minyak goreng, sekitar 2 tahun kalau tidak kena matahari langsung. Aman.
  • Gula pasir, praktis tidak ada batas kalau kering. Aman.
  • Telur, sekitar 2 minggu di suhu ruang. Jangan pernah stok besar.
  • Tepung, sekitar 6 bulan tapi gampang apek kalau lembap. Hati hati.

Tiga, apakah selisihnya cukup besar

Lihat angkanya, jangan perasaan. Minyak goreng botol turun dari Rp 19.500 ke Rp 18.300 kalau ambil satu dus isi 12. Selisih Rp 1.200 per botol, jadi Rp 14.400 per dus. Untuk warung yang habis satu dus seminggu, itu Rp 57.600 sebulan. Layak.

Bandingkan dengan garam. Selisihnya Rp 400 per pak, dan Anda harus ambil 20 pak untuk dapat tier itu. Hematnya Rp 8.000, tapi 20 pak garam bisa jadi stok tiga bulan di warung kecil. Uangnya lebih berguna di tempat lain.

Beli per dus untuk barang yang berputar cepat. Beli eceran untuk barang yang jarang laku. Sesederhana itu.

Untuk keluarga, hitungannya beda sedikit

Keluarga tidak menjual lagi, jadi tidak ada margin yang hilang. Yang Anda kunci hanya uang dan tempat. Untuk beras, minyak, dan gula, belanja bulanan besar hampir selalu menang karena harganya terkunci dan Anda aman dari kenaikan harga di tengah bulan. Untuk telur dan sayur, tetap beli secukupnya.